Jumat, 03 Oktober 2014

EKSISTENSIALISME MENURUT JEAN PAUL SARTRE

  •  Apa itu Eksistensialisme?
o   Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya.
o   Jiwa eksistensialisme ialah pandangan manusia sebagai eksistensi.
o   Etimologis: ex= keluar, sistentia (sistere)=berdiri. Manusia bereksistensi = manusia baru menemukan diri sbg aku dengan keluar dr dirinya.
o   Pusat diriku terletak di luar diriku. Ia menemukan pribadinya dengan seolah-olah keluar dari dirinya sendiri dan menyibukkan diri dengan apa yang diluar dirinya.
o   Hanya manusialah bereksistensi. Eksistensi tidak bisa disamakan dengan ‘berada’. Pohon, anjing berada, tapi tidak berseksistensi.
o   Eksistensialisme dari segi isi bukan satu kesatuan, tapi lebih merupakan gaya berfilsafat.
o   Beberapa tokoh filsafat yg menganut gaya eksistensialisme, a.l.: Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dll.
o   Sulit menyeragamkan defenisi mengenai eksistensialisme, karena adanya perbedaan pandangan mengenai eksistensi itu sendiri.
o   Namun satu hal yg sama: filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
  • Beberapa Ciri Eksistensialisme:
o   Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
o   Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
o   Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
o   Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.

  • Siapa itu Jean Paul Sartre?
o   Lahir di Paris 1905
o   1929 menjadi guru
o   1931-1936 dosen filsafat di Le Havre
o   1941 menjadi tawanan perang
o   1942-1944 menjadi dosen di Loycee Pasteur
o   Banyak menulis karya filsafat dan sastra
o   Dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger
  •  Pemikiran Filsafat Jean Paul Sartre:
o   Sulit menjabarkan pemikiran filsafat Sartre secara singkat.
o   Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yg tidak punya kesadaran.
o   Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya.  Bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
o   Asas pertama utk memahami manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab.
o   Tanggungjawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggungjawab kepada diri kita sendiri.
o   Dibedakan ‘berada dlm diri’ dan ‘berada untuk diri’
o   Berada dalam diri = berada dlm dirinya, berada itu sendiri. Mis. meja itu meja, bukan kursi, bukan tempat tidur. Semua yang berada dalam diri ini tdk aktif. Mentaati prinsip it is what it is. Maka bagi Sartre  segala yang berada dalam diri: memuakkan.
o   Sementara berada untuk diri = berada yg dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia punya hubungan dengan keberadaannya. Bertanggungjawab atas fakta bahwa ia ada. Mis. Manusia bertanggungjawab bahwa ia pegawai, dosen. Benda tidak sadar bahwa dirinya ada, tp manusia sadar bahwa dia berada. Pada manusia ada kesadaran.
o   Biasanya kesadaran kita bukan kesadaran akan diri, melainkan kesadaran diri.
o   Baru kalau kita secara refleksif menginsyafi cara kita mengarahkan diri pada objek, kesadaran kita diberi bentuk kesadaran akan diri.
o   Tuhan tidak bisa dimintai tanggungjawab . Tuhan tidak terlibat dalam putusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan, dan hanya sebagai makhluk yang bebas dia bertanggungjawab.
o   Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.
  • Apakah yang Mengurangi Kebebasan Manusia?
o   Beberapa kenyataan (kefaktaan) yg mengurangi penghanyatan kebebasan:
§  Tempat kita berada: Situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri struktur.
§  Masa lalu: Tidak mungkin mentiadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
§  Lingkungan sekitar (Umwelt): Kenyataan adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri.
§  Maut: Tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
o   Walaupun kefaktaan ini melekat dalam eksistensi manusia, tapi kebebasan eksistensial tidak bisa dikurangi/ditiadakan.
  •  Kebutuhan Manusia:
o   Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelma sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia.
o   Tubuh sebagai pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat sematamata,tp mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.
  • Komunikasi dan Cinta:
o   Komunikasi = Suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang seorang seolah2 membekukan orang lain.  Terjadi saling pembekuan sehingga masing-masing jadi objek.

o   Cinta = Bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tak terhindarkan.


sumber: PPT yang dibagikan saat kuliah oleh Bapak Carolus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar