Cara Mengembangkan Emosi pada Remaja
Latar Belakang
Emosi adalah sesuatu gambaran dari
sifat manusia yang menunjukkan keberagaman perasaan dari setiap orang yang
berbeda. Emosi sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang karena emosi
menentukan bagaimana seorang individu berperilaku. Artikel berikut ini akan
membahas secara singkat mengenai komponen, ciri-ciri, bentuk serta faktor dari
emosi itu sendiri. Emosi juga memiliki perbedaan di setiap daerah yang ada
karena tiap daerah memiliki norma yang berbeda. Berikut pemaparan mengenai
emosi terutama pada remaja.
Pengertian Emosi
Pengertian emosi menurut kamus. Kamus
Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan emosi sebagai luapan perasaan yang
berkembang dan surut dalam waktu singkat; keadaan reaksi psikologis dan
fisiologis (seperti kegembiraan, kesenangan, keharuan, dan kecintaan,
keberanian yang subjektif) (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2005). Menurut
APA Dictionary of Psychology (2007) emosi
adalah “a complex reaction pattern, involving experiental, behavioral, and
physiological elements, by which the individual attemps to deal with a
personally significant matter or event.” Kalimat ini menyatakan bahwa emosi
Pengertian emosi
menurut handbook. Aristotle
(384–322 B.C.) dalam bukunya, Rhetoric,
mendefinisikan emosi sebagai berikut:
as that which leads one’s condition to
become so transformed that his judgment is affected, and which is accompanied
by pleasure and pain. Examples of emotion include anger, fear, pity, and the
like, as well as the opposites of these.
Aristoteles yang dikutip dalam Handbook of Psychology (2008) menyatakan
emosi yang menyebabkan kondisi seseorang untuk sangat berubah dan mempengaruhi
keputusannya, dan ditambah dengan sakit dan kenikmatan. Contoh dari emosi adalah
amarah, takut, kasihan, dan juga kebalikan dari emosi tersebut.
Komponen-komponen
Emosi
Dalam buku Danarjati, Murtiadi,
Ratna (2013) membagi komponen emosi menjadi tiga, yaitu: (a) expression, biasa dilihat dari
ekspresinya; (b) physiological change,
emosi menimbulkan perubahan fisiologis yang permanen; dan (c) subjective state, emosi yang biasanya
diikuti rasa takut dan cemas atau bergairah.
Ciri-ciri Emosi
Menurut Danarjati, Murtiadi, dan
Ratna (2013) mengungkapkan beberapa ciri-ciri emosi sebagai berikut: (a)
pengalaman emosional yang bersifat pribadi, kehidupan emosional individu tumbuh
dari pengalaman emosionalnya sendiri; (b) adanya perubahan aspek jasmaniah,
pada saat individu menghayati suatu emosi maka terjadi beberapa perubahan pada
aspek jasmaniah; (c) adanya perubahan aspek fisik; (d) emosi diekspresikan
dalam perilaku, emosi yang dihayati oleh individu diekspresikan dalam perilaku
terutama dalam ekspresi wajah dan suara; dan (e) emosi sebagai motif, mendorong
individu untuk melakukan kegiatan apakah menjauh ataupun mendekati suatu obyek
yang memberikan rangsangan emosional.
Bentuk-bentuk
Emosi
Meskipun emosi itu sedemikian
kompleksnya, namun menurut Daniel Goleman (dikutip dalam Ali & Asrori, 2014,
h. 63 ) terdapat sejumlah kelompok emosi seperti berikut: (a) amarah, di
dalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati,
terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan, dan
kebencian patologis; (b) kesedihan, di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram,
suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi;
(c) rasa takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, waswas,
perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, panik, dan
fobia, (d) kenikmatan, di dalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas,
riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, puas,
rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania; (e) cinta, di dalamnya
meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,
bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang; (f) terkejut, di dalamnya meliputi
terkesiap, takjub, dan terpana; (g) jengkel, di dalamnya meliputi hina, jijik,
muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah; dan (h) di dalamnya meliputi
rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur
lebur.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
Perubahan jasmani. Taraf permulaan
pertumbuhan hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan
postur tubuh mejadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering
mempunyai akibat yang tak terduga pada perkembangan emosi remaja. Hormon-hormon
tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga
dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remaja dan seringkali menimbulkan
masalah dalam perkembangan emosinya (Ali & Asrori, 2014).
Perubahan pola interaksi dengan orang tua. Pola
asuh orang tua terhadap remaja sangat bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut
yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat
otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga yang penuh cinta
kasih. Perbedaan pola asuh orang tua sepeeti ini dapat berpengaruh terhadap
perbedaan perkembangan emosi remaja (Ali & Asrori, 2014).
Perubahan interaksi dengan teman sebaya. Faktor
yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah hubungan dengan
teman lawan jenis. Pada masa remaja tengah, biasanya remaja benar-benar mulai
jatuh cinta dengan teman lawan jenisnya. Gejala ini sebenarnya sehat bagi
remaja, tetapi tidak jarang juga menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada
remaja jika tidak diikuti dengan bimbingan orang tua atau orang yang lebih
dewasa. Gangguan emosional yang mendalam dapat terjadi ketika cinta remaja
tidak terjawab atau karena pemutusan hubungan cinta dari satu pihak sehingga
dapat menimbulkan kecemasan bagi orang tua dan remaja itu sendiri (Ali &
Asrori, 2014).
Perubahan pandangan luar. Ali dan
Asrori (2014) menyatakan ada beberapa pandangan luar yang dapat menyebabkan
konflik emosional dalam diri remaja, yaitu: (a) sikap dunia luar terhadap
remaja sering tidak konsisten, (b) dunia luar atau masyarakat masih menerapkan
nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan perempuan, (c) seringkali
kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab.
Perubahan interaksi dengan sekolah.
Pada masa anak-anak, sekolah merupakan tempat pendidikan yang diidealkan oleh
mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka
karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para
peserta didiknya. Oleh karena itu, tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih
patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada orangtuanya. Posisi guru
semacam ini sangat strategis apabila digunakan untuk pengembangan emosi anak
melalui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif (Ali &
Asrori, 2014).
Emosi dalam
Budaya Tertentu
Menurut Niedenthal,
Krauth-Gruber, dan Ric (2006) dalam budaya tertentu, seseorang ditentukan dari
hubungannya dengan kelompok sosial. Emosi sangat mendukung agar kita dapat
melakukan norma yang ada, karena itu, emosi memberi sinyal keadaan saling
bergantungan dan meningkatkan hubungan harmonis seperti contohnya simpati, rasa
malu, rasa bersalah. Hal-hal tersebut dapat ditetapkan sebagai peraturan
tersembunyi dari emosi yang dapat menghalangi hubungan dengan sesama, seperti
contohnya kebanggaan atau kemarahan.
Simpulan
Dalam artikel yang
sudah dibahas diatas, dapat kita ketahui apa yang dimaksud dengan emosi. Emosi
adalah suatu ekspresi perasaan tertentu dari setiap orang berbeda yang dapat
mempengaruhi perilaku seseorang. Ciri-ciri emosi dan bentuk emosi juga terdapat
berbagai macamnya seperti yang disebutkan diatas. Emosi memiliki beberapa
komponen seperti expression,
physiological change, dan subjective state.
Emosi juga disebabkan oleh beberapa faktor tertentu seperti perubahan jasmani, perubahan pola interaksi dengan
orang tua, perubahan
interaksi dengan teman sebaya, perubahan pandangan luar, perubahan interaksi
dengan sekolah. Emosi setiap daerah yang memiliki kebudayaan tertentu juga
memiliki perbedaan nilai yang memiliki norma tertentu. Emosi pada awalnya
bersumber dari dalam diri sendiri, bukan dari dalam diri orang lain. Emosi
berasal dari bagaimana seorang individu mengontrol diri dan perasaannya untuk
membentuk emosi yang mempengaruhi perilaku.
Daftar Pustaka
Ali, M., &
Asrori, M. (2014). Psikologi remaja:
Perkembangan peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Danarjati, D. P.,
Murtiadi, Ratna, A. (2013). Pengantar
psikologi umum (edisi 1). Jakarta: Graha Ilmu.
Lewis, M.,
Haviland-Jones, J. M., Barrett, L. F. (Eds.). (2008). Handbook of emotions (3rd ed.). New York, NY: The Guilford Press.
Niedenthal, P.
M., Krauth-Gruber, S., & Ric, F. (2006). Psychology of emotion: Interpersonal, experiental, and cognitive
approaches. New York, NY: Psychology Press.
Pusat Bahasa
Depdiknas (2005). Kamus Besar Bahasa
Indonesia (ed. 3). Jakarta: Balai Pustaka.
VandenBos, G. R.
(2007). APA dictionary of psychology. Washington,
DC: American Psychological Association.